dalam sajak ini, seorang perempuan
telah menyulam tangis. sakit yang rahasia
alam adalah peluru pada luka dijantungnya
lantas dengan segala dosa lama
dan musik jazz di sela-sela kota
sepi enggan pergi
ditubuhnya, doa jatuh
pada telapak tangan yang basah
sedang getar jarum jam hampir menjadi
dendam, kemudian kosong
“waktu tak akan pergi sebelum
langit itu mati” bisiknya
lalu matanya yang hijau
memandang jauh ke seberang pulau
“hidup tak hanya menunda kekalahan, ril!”
ia berbisik lagi, entah pada siapa
maka jari-jari itu memungut kembali
kenangan dari sisa perjalanan yang belum
selesai. dalam sajak ini, seorang perempuan
telah jatuh pada angin
laut sebenarnya tak pernah mati
atau kekal barangkali
hanya waktu tak jua sampai ke tepi
2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar